”Ingat Nila, Janji sebelum ijab itu setengah palsu,.”
“Iya Ma,tapi insyaalloh dia beda..” Meletakkan tas dan menjatuhkan tubuhnya di sofa.
“Kepandaian laki-laki adalah membuat sesuatu menjadi seolah-olah, Mama hanya sudah pernah melewati yang sedang kamu lewati ,jangan pertaruhkan semuanya”.
“Iya Ma..,Nila sayang Mama..” Nila memeluk ibunya.
seperti sebuah..
hot pant
untuk nila.
POPULAR…
Perpustakaan . Kampus lama.
Terasa dingin.Warna biru di seluruh dinding bangunan, kursi, hingga baju pegawai. Buku-buku tetata rapi. 4 komputer pencari selalu menyala.Suasana tenang untuk orang –orang di situ.Begitupun dengan Kevin, duduk di pojok, di sebelah komputer itu, tangannya memuta-mutar pensil, dia sedang menulis sesuatu di kertas yang besar.
“ Kamu kemana saja sih Vin? di kelas tidak ada, di sms tidak balas?”
“Sssstt..,jangan keras2. Maaf hpku ku silent di tas, daripada di kelas?., dosennya jadi tidak datang kan?”
Dimas menggelengkan kepalanya, “ Ya sudah,,lebih baik kamu juga disini, baca-baca apa gitu, disebelah sana ada laporan-laporan akhir kakak kelas, siapa tahu menginspirasi..”
“Oke-oke”. Dimas menuju buku-buku kuning itu,ada juga yang berwarna biru,tebalnya juga lumayan untuk di baca,tapi untuk mahasiswa yang naik tingkat tiga, apapun di lakukan untuk mendapatkan judul tugas akhir .
Saat dimas masih memilih buku mana yang akan dibacanya,Kevin kembali meneruskan tulisannya. Berdiam.tangan kanan yang banyak berkata.
Sebagai mahasiswa yang aktif di Dewan Perwakilan Mahasiswa Politeknik Negeri Malang, Kevin memang sering disibukkan dengan hal-hal keorganisasian, seperti Laporan pertanggung jawaban,proposal ataupun ide-ide tertulis.makanya tak heran jika ia sering menyendiri untuk menyelesaikan sesuatu.dan perpustakan ini memang tempat yang tepat, itu seharusnya.
”ini ada yang bagus judulnya Vin”, Dimas duduk di sebelah sambil memperlihatkan buku yang diambilnya. Kevin melongok sedikit,”Iya bagus, cepat baca itu”.Dimas segera membukanya. Dan tentu saja segera diam.
…Sudah jam segini.cepat sekali…
Hari semakin siang, pengunjung perpustakaan semakin bertambah , kebanyakan adalah mahasiswa-mahasiswa tingkat tiga yang ingin mencari judul tugas akhir, tapi banyak juga mahasiswa tingkat dua ataupun satu yang niatnya memang ingin menemukan banyak hal dari perpus, termasuk Nila dan Lili.
Dari luar pintu Nila sudah memenangkan perhatian setiap orang, si cantik dengan blazer merah muda jurusan administrasi niaga, adalah pemandangan yang menyenangkan bagi penghuni kampus lama. Rok diatas lutut,semakin meyakinkan dirinya,,
........Kaki ku sangat indah, menawan dengan D&G highheels ini..
Kacamata bingkai putih,memancungkan hidungnya. Rambut lurus halus sebahu menandakan dia adalah wanita energik ,berkarakter. Banyak prestasi membanggakan yang Nila dapatkan, Duta Anti Narkoba Malang, juara lomba foto jurnalistik nasional, anggota aktif pers malang, banyak lagi dari itu. Dan satu hal, dia adalah anak dosen pembina kemahasiswaan, siapa yang tidak kenal dengan seorang Nila, mungkin mahasiswa paling lebar dan tebal kacamatanya atau yang berambut lengket belah samping, atau bisa saja mereka pun mengenalnya.
Tapi banyak juga yang beranggapan, popularitas Nila adalah dari popularitas ayahnya, tapi Nila tak pernah menanggapi omongan itu, menurutnya, jadi anak Pak samsul atau bukan anak Pak samsul, dia tetap akan populer dengan semua yang ada pada dirinya.Dia meyakini sempurnanya wanita.
Nila dan lili masuk perpus. Berjalan bagaikan dewi. Bersayap indah menebar wangi.
“Besok rapat Pemira Li, kamu jangan sampai lupa!”, suara Nila yang pertama. Menuju meja baca kedua dari komputer, di tangan kanannya ada kamus mandarin ,dan di tangan kiri ada Guess silver.
“Iya2.aku ingat Nil”,
Nila dan lili duduk, tapi mata semua mahasiswa di dalam perpus tetap berdiri, mereka semua memperhatikan Nila, begitu juga Kevin, melirik, tapi hanya sebentar, setelahnya lebih baik meneruskan membuat konsep2 di kertasnya..
Beberapa saat kemudian meredalah euforia si cantik Nila, semua kembali hening, membaca dan menulis.
……………………………….
……………………………..
”Ini lucu,”. Nila tersenyum menertawakan. Dia dan Lili membicarakan sms laki2 yang ada di inboknya Nila, sms yang terlalu sederhana.
” …Ini sih smsnya anak SMA kelas 1”, menurut Nila.
Banyak Laki2 di kampus yang mencoba mendekati Nila, entah teman sekelas, seorganisasi, atau yang baru kenal, tapi selalu saja Nila beralasan untuk menolak rasa-rasa itu. Karakter kacang, bukan tipe,dan apalah yang lain alasan , yang jelas banyak laki2 yang sudah gagal.
“ Balaslah nil,kasihan Henry ,paling tidak dia kan sudah mencoba sms?”
“ Balas bagaimana lili??..aku tidak menyukai dia sedikitpun”.
“ Lha kamu belum mencoba dekat?”.
Nila berfikir sejenak, “ Baiklah,aku akan membalasnya”..lalu mengetik2 blackberry-nya,Lilipun melihat apa yang ditulis sahabatnya,
[ Tak ada satupun orang
yang ingin sendiri Hen,
tapi dia hanya belum
mampu berdua.maaf ]
Message sent….
“ Itu bukan membalas Nil, itu menghentikan, kenapa kau tega lakukan itu?”
“ Terserahlah ,ini mauku…Aku bukannya sombong Lili ,”
“Kamu tak mencoba menunggu rasa itu muncul perlahan Nil?”
“Justru dengan aku melakukan ini, aku mencoba menunggu rasa itu muncul perlahan..Lagian jika kita tidak menyukai orang menyukai kita,apakah itu orang jahat? ”
Mereka berdua sebenarnya hanya berbicara berbisik2, tapi suara bisikanya terdengar ditelinga Kevin, terus menerus hingga dia merasa terganggu. Matanya menatap tajam ke Nila dan Lili, tapi tak berguna jika yang ditatap tidak merasa ,dan terus beirbisik-bisik . Lama kelamaan Kevin tak bisa bertahan..kertasnya diberesi, dimasukkan ke tasnya.Kevin beranjak.
“Kemana Vin?” Dimas bingung.
”Ayo pergi”,
”Kemana?”, tak ada jawaban. Terus saja Kevin berjalan.
Kevin berhenti tepat di samping meja baca Nila dan Lili, ”Mbak..dari dulu aku beranggapan perpus adalah tempat yang cocok untuk membaca dan menulis,,tolong jangan membuatku meragukan perngertian itu sekarang”.
Nila tahu apa maksud perkataan yang baru saja, Nila hanya diam, menatap yang berbicara, hatinya terus membela,….. Kenapa anak ini? tadi Aku dan Lili hanya berbisik lirih….
Sedangkan si Kevin, setelah berkata seperti itu, tersenyum sinis,,cepat sekali kedua matanya melihat kebawah ,paha nila yang putih itu terpampang jelas di hadapannya, karena rok Nila yang tertarik keatas ketika duduk..lama ia memandangi itu..
Nila menyadarinya, segera ia berdiri. ”Lihat apa matamu?”…
Senyum sinis itu diperjelas ” Yang kamu perlihatkan Mbak”, setelah itu kevin pergi keluar.
”Dasar mata keranjang” , Umpat Nila.
Nila dan Kevin memang sudah pernah saling melihat.,tapi hanya sebatas itu.di Gedung sekertaritat bersama UKM Polinema.Kevin di DPM dan Nila anggota baru UKM KOMPEN *.dan hari ini,pertamanya mereka saling bicara, saling berada dekat, dan saling bertengkar..
*********
Semua gedung dan bangunan Politeknik Negeri Malang telah terpasang nomor dan kode, termasuk gedung sekretariat bersama UKM dan HMJ, berada di lantai dua gedung AS. Hilal berlari-lari menaiki tangga sekber,ingin mencari seseorang. Lalu ia menuju ke sekretariatnya DPM, ruangannya menghadap ke barat,urutan ketiga dari tangga selatan.
“Mas Kevin ke mana An ?”.
“Mas Kevin tadi pamit ke USMA mas”..
“Gimana sih,,kurang sepuluh menit, kapelnya masih nyantai? ” Hilal segera menyusul ke USMA .
“Vin lagi apa?..ayo sudah ditunggu anak2 lo,”
“Iya2..masih minum juga,sebentar Ver..”
”Ya, sudah ya, aku duluan, cepet ya..”
Sore ini rapat Pemira di depan gedung aula pertamina, di sebelah selatan gedung sekber. Semua panitia sudah berkumpul. Kevin adalah ketua Komisi Pemilihan Raya. Tak berapa lama kemudian ia membuka rapat dengan senyum dan bijak, wajahnya bersinar , teduh, seperti matahari sore. Suaranya pun nyaman untuk di dengar,tak memungkiri, fisik akan sedikit membantu seseorang untuk kepemimpinannya. Tapi di belakang ada satu orang yang benci melihat semua dari Kevin, …Dasar si mata keranjang…
“Nila, sudah..jangan pakai wajah ketus begitu sama dia, kita juga yang salah kemarin, dia ketua kita, nanti kerjamu tidak akan maksimal kalau benci begitu”.
“Yang membuat aku marah bukan saat dia mengingatkan kita,tapi saat dia kurang ajar. Biarkan Li,suatu saat aku akan balas si mata keranjang itu”.
Kevin melanjutkan dengan menjelaskan gambaran umum dari Proker Pemira, gambaran tahun lalu, konsepnya seperti apa, semua informasi yang ia tahu ia share kan ke anggota., termasuk kepada Nila. Kevin tahu kalau nila juga termasuk anggota KPR dan sedang lkut di rapatnya kali ini.
“..Guntur cahyo,Adi Rahmat W dan terakhir Nila Mahadewi putri,kalian masuk Sie Kesekretariatan..silahkan ditentukan koordinatornya.” Setelah uraian gambaran umum, Kevin membacakan susunan kepanitiaan,ia sudah susun kemarin di perpus.walaupun terganggu.
Nila mengangkat tangan,ia ingin menyampaikan sesuatu.
“Iya silakan,ada apa?”
“Terima kasih atas waktunya. Maaf Kapel, mau usul, Sie kami kok banyak ceweknya? Kayaknya butuh tambahn cowok untuk kesana kemari cari tanda tangan,”
“Tidak perlu saya rasa..komposisi begitu sudah cukup pas ”
“ Ini tidak adil….,sie-sie yang lain cowok dan ceweknya seimbang, ” begitulah sifat Nila, ia tidak gampang menerima ketidakseimbangan, hal yang menurutnya benar akan dia perjuangkan, itu mungkin menjadi alasan ia ikut UKM KOMPEN, wadah untuk menegakkan hal busuk,wadah untuk menemukan siapa sejati dirinya, ia ingin berguna bagi orang lain.
“Tahu apa kamu tentang keadilan!!” Kevin juga terbawa suasana yang di bawa Nila.semua peserta rapat tiba2 diam.
“Kamu jangan menggunakan otoritasmu!!..Dengarkan.. walau itu cuma anggota! “, Nila bersikeras.
“Aku sudah mendengarkan, dan pula sudah memutuskan, kamu saja yang tak menerimanya…………. Saat kamu menyirami tanaman, yang besar kamu beri banyak, yang kecil kamu beri sedikit air kan??..semua itu ada kapasitasnya, dan sekarang aku ketua mu disini,hormati keputusanku.”
“Apa maksudmu??….Jangan samakan kami dengan tumbuhan!!”. Nadanya pun sudah terlalu keras untuk forum seperti itu,tapi Nila tidak peduli,berteriak sekalipun adalah hal biasa untuk memperjuangkan pendiriannya, idealisme itu.
“Makanya yang enak di atur,,kamu takut tidak sanggup? Iya?, jalani saja dulu, nantikan tetap di evaluasi ,……...Ooo.aku jadi mengerti sekarang, kenapa banyak orang yang mengenalmu,karena kamu suka kontroversi rupanya..”.
Nila diam..tidak menjawab lagi..
“Udah Nil udah..sabar”. hanya itu yang bisa Lili katakan pelan, sambil memegangi pundak nila..
”Itu manusia apa bukan sih li??” Nila lirih..
Setelah pembentukan panitia dan pembagian tugas selesai,Kevin menutup rapat pertama.
“Terimakasih atas kehadiran kalian semuanya,tolong segera kerjakan apa yang diamanahkan kepada kalian,,seminggu lagi koornya laporan .maaf jika ada salah dari saya..wassalamualaikum wr wb…”
………Aku tidak akan memaafkanmu....itu kata hati nila sebelum rapat benar2 bubar.
COLD AT NIGHT,,MAY BE…
“Assalamualaikum”,
“Walaikumsalam, weiits keren sekali kamu Cha? ”
“Biasa saja, kemarinkan sudah pernah pakai ini aku , ayo berangkat Don, mana yang lain? “
“Lha ya itu, anak-anak lama sekali di dalam, kamu ajak berangkat gih Cha,aku sudah lama menunggu disini “, Doni yang duduk-duduk di teras rumahnya Lili, karena tidak kuat kepanasan nunggu di dalam.
“Haahaa.cewek dan cowok itu tidak sama,”
“Aku juga tahu Cha, tapi ini sudah keterlaluan lama,biasanya tidak selama ini”,
Icha tersenyum Lalu masuk kedalam , Ia menemukan kesibukkan beberapa anak gadis di dalam rumahnya Lili, ada yang terus-terusan berkaca, sambil melempar kesana-kesini rambutnya,ada yang bolak balik masuk kamar untuk sekedar menemukan baju yang matching. Semua layaknya perempuan yang ingin berubah jadi bidadari di acara nanti.
“Lili, Ini tak pakai ya, soalnya atasanku cocok sekali jika bawahnya ini,” Nila yang sedari tadi tidak keluar kamar bersama Lili,
“Apa tidak terlalu pendek itu Nil, aku saja sudah tak pernah memakainya ?”
“ Ah…Tidak apa-apa, sesekali boleh dong “
“ Ya terserah kamu, pakai saja Nil”, Lalu Nila melepaskan rok seragamnya, dan mengganti dengan hot pant Levi’s milik Lili.
Hari ini Nila sudah izin papanya,sepulang dari kuliah ia tidak langsung pulang, ia ingin keluar dengan teman –temannya. Setelah pelajaran mandarin di ruang extra dua, ia langsung kerumah Lili di Perumahan Bukit cemara Tujuh, Tlogomas.
Beberapa saat kemudian, satu persatu sudah merasa cantik, selesailah penyempurnaan itu. Icha yang sudah menunggu, melihat jam tangannya,…Sudah jam segini…. Lalu ia segera mengetok pintu kamar Lili,
“ Nila, Lili, ayo sudah jam berpa ini, belum nanti macetnya, inikan weekend,banyak kendaraan yang ke Batu, kalau tidak segera berangkat, kita ketinggalan banyak nanti”
“ Iya Cha, Ini sudah selesai..Macet atau kamu yang tidak sabar bertemu dengan Aris, si Pangeranmu itu ”, Lili menjawab dengan godaan.
“Keduanya,haha”. Semua pun tertawa-tawa..
Tak berselang lama, semuanya pun telah siap berangkat.Nila bercermin untuk yang terakhir kalinya
….Lihat Aku, aku sudah sempurna,aku penuh wewangian…hatinya telah mantap.
***********
Di suasana yang hiruk pikuk, Elan keluar dari dalam aula pertamina untuk menghirup udara segar, Ia ingin menghilangkan capeknya karena seharian kesana kemari. Sebagai ketua umum UKM USMA, Ia bertanggung jawab atas kelancaran acara USMA malam ini. Di luar aula, Elan Bertemu dengan Kevin dan beberapa anak DPM lainnya.
“ Hai Lan…”, mereka saling berjabat tangan. ”… kecapekan kelihatannya?”
“Iya Vin, Istirahat sebentar Ini, baru datang kalian semua? “
“Iya, tadi masih ada alumniku, bagaimana sejauh ini acaramu?”
“Lancar Vin,berkat dukungan kalian, oiya bagaimana perkembangan pemira?”,
“Semoga juga lancar , kemarin sudah rapat pertama..”
Elan, Kevin dan anak yang lain mengobrol kesana kemari, banyak hal yang bisa dibicarakan, tentang keorganisasian, kampus, kepentingan bersama, tentang seseorang yang menginspirasi, tak terasa mereka sudah lumayan lama,
“Maaf Vin,silakan keliling-keliling,aku masih ada urusan sedikit ”,
“Ok lan, sukses ya”
Kevin sebenarnya tak begitu suka dengan keramaian,tapi kalau sekali dua kali dia masih bisa menikmatinya..Setelah mengobrol dengan Elan tadi, Kevin masuk ke dalam aula, dia berada disamping pintu masuk dengan beberapa anak DPM dan beberapa anggota USMA. Walls-nya tinggal sedikit di tangan,tapi musik yang menghibur jelas masih akan lama , memang masih jam tujuh lewat.
“ Itu band USMA ya?”
“ Bukan mas Kevin, cuma vokalisnya saja anak USMA, dia mewakili kelasnya 1B AN”
“Oooo..”
Sedangkan diluar, empat motor sedang bingung mencari parkir yang hampir penuh,.”Disitu saja,,ayo cepat,Inong sudah main kayaknya”.
“Iya2 sebentar”..Mereka bersemangat sekali..setelah terpakir,bergegas menuju aula pertamina.
Malam ini di kampus baru ada acara Ice Cream Party. Acara tahunan UKM USMA yang terkenal keren, yang mampu menyedot antusiasme mahasiswa polinema, berbagai brand es krim terkemuka memenuhi stand, tentu akan semakin mendinginkan malam , sedangkan panggung dimeriahkan dengan penampilan homeband2 polinema dan bintang tamu, mereka lah Shaggy dog.
Delapan mahasiswa yang terburu-buru tadi memasuki aula. Orang yang melihatnya pasti bisa menyimpulkan, bahwa mereka adalah anak-anak Administrasi Niaga. Anak AN sudah terkenal dengan penampilan all out untuk acara-acara seperti ini. Itu Nila dan teman-temannya. Kevin sudah tahu benar.
Setelah es krim ditangannya benar-benar habis,Kevin ingin berjalan mengunjungi semua stand es krim, ingin merasakan es krim yang lain, musik tetap bermain, ia juga ingin menikmatinya, lebih dekat ke panggung, karena sebentar lagi Shaggy dog akan naik.
Entah di sengaja atau tidak Kevin menemukan Nila, di tengah keramaian. Di tengah anak-anak muda yang terbawa oleh jiwa mudanya. Kevin menghampiri Nila.
Nila sadar ada orang yang mendekat, dia juga kenal siapa orangnya,tapi dia juga maklum, dengan kecantikan dan penampilannya seperti malam ini, akan banyak laki-laki yang bangga bila bisa terlihat mengobrol dengannya.
Kevin berada di dekat Nila ,disampingnya,tapi nila tidak memperdulikan,tetap bernyanyi, pura-pura tidak mengetahui.
….Sudah ada empat orang sebelumya yang mendekatiku yang lebih dari kamu , mereka saja tidak aku gubris..apalagi kamu…..hati nila mengungkapkan kepercayaan dirinya.
Setelah lama dengan keadaan itu, ternyata tidak ada kata keluar dari mulut Kevin …anak ini kenapa mendekatiku?dan diam saja?? ..hal itu memaksa Nila melirik kevin. Nila begitu tersengat hatinya, ternyata Kevin memandangi paha nila, dan bagian tubuh Nila yang agak terbuka lainnya, mata Kevin kemana- kemana.
“Heeyy..lihat apa matamu?..dasar mata keranjang..sudah berapa kali kamu melakukan ini,dasar menjijikan,,” Nila begitu marah.begitu bertriak.
Teman-teman Nila menoleh kearahnya semua.”Ada apa Nil?”..
“Anak ini kurang ajar kepadaku“
Mendengar kalimat itu teman-teman laki-laki Nila segera memegang kerah Kevin,,Kevin hanya diam dan sedikit tersenyum..
“Hey kau bangsat,,jangan berani kurang ajar sama Nila, mau kami hajar kau?”
Mereka adu otot. Kevin berusaha melepaskan tangan yang memegangi kerah bajunya,
“ Aku tidak melakukan apapun pada temanmu!! “,
“ Banyak omong kau “,
“ Kau yang banyak omong, kalau hanya mengatakan kami ,semua juga berani, coba katakan aku, beranimu hanya jika kau bersama teman-temanmu , saat kamu benar-benar sendiri, carilah aku dimanapun kamu suka”, matanya menatap tajam. Kevin menantang, lalu ia berjalan pergi. Ia tidak mau mengganggu acaranya orang lain.
“Ada apa Nil?”, Dita teman sekelas nila dan adik angkatan kevin di DPM,, yang ingin tahu yang terjadi,padahal ia berdiri tidak begitu jauh,suara musik membuatnya tidak jelas mendengar, dan memang konsentrasi semua penonton adalah Shaggy dog.
”Kakakmu itu kurang ajar ke aku Dit”. Sambil menunjuk kevin yang berjalan pergi..
“Masa sih?, kurang ajar gimana Nil?” , Dita terheran2.
“Matanya kemana- mana , menikmati tubuhku”..,
“Padahal mas Kevin orangnya baik, agamanya juga kuat. Masa sih Dia melakukan itu?”
“Itu yang dinamakan munafik dit, didepan orang banyak dia sok baik,tapi Dia kurang ajar kepadaku, makanya aku selalu menghindar dari laki-laki , semua laki-laki hanya mandang kita dari luarnya saja. Mereka terlihat baik awalnya, tapi akhirnya sama juga kan?, hati-hati dengan orang seperti itu Dit”.
“Tidak semuanya kali Nil”
“Mungkin, tapi yang mana?, sudahlah, jangan bahas itu, bikin mood ku hilang saja”.
Malam semakin larut,acara Ice cream party berjalan lancar dan menyenangkan penonton, tapi tidak dengan Nila, hatinya merasa dilukai oleh Kevin .ia merasa, harga dirinya sebagai seorang wanita dilecehkan, es krim dan malam pun tak dapat membuat dingin hatinya. Nila tidak bisa berbuat apa- apa, hanya dendam ingin membalas kelakuan Kevin, tapi ia tidak ingin mengadukan kejadian ini kepada papanya, walaupun papanya adalah dosen pembina DPM, juga kenal baik dengan kevin. Nila bukan tipe pengadu.
SO HOT…
“ Papa kenapa belum mandi?, malah lihat Tv?, Papa tidak masuk?”
“Jadwal Papa ganti Nil hari ini, sarapannya cepat dihabiskan sayang, nanti kamu telat lo? ”
“Iya Pa..”..Nila memulai makan apa yang disiapkan pembantunya di meja,sambil ia juga melihat berita liputan 6 yang dilihat Papanya.
Beberapa saat kemudian makan nya terhenti ketika melihat sebuah berita di tv itu,,” Jangan diganti Pa”..ia mencermati sebuah berita.
……Hari ini, hari selasa,,oiya dia diperpus jam 9..mati kau mata keranjang,akan kubalas kelakuanmu,biar kamu sadar….
Nila segera menghabiskan sarapannya, ia ingin segera kekampus. Bermodal sebuah berita, ia ingin membalas dendamnya pada seseorang, siapa lagi kalau bukan si kevin. Seiring berjalannya waktu,Nila hafal kapan Kevin ke perpus. Selasa jam Sembilan, durasi satu setengah jam.,karena ia selalu ketemu diwaktu itu..
Perpustakaan, pukul 09.15 WIB
“Selamat pagi Pak abid”,
Pak Abid adalah pegawai perpus, sangat akrab dengan Nila, selain Nila sering ke perpus, Pak abid kenal baik dengan Pak Samsul ayah Nila. Nila sebenarnya adalah anak yang ramah dan baik, kepada orang yang baik kepadanya.
“Selamat pagi mbak Nila”,
“Jawa pos nya sudah datang Pak?”,
“Sudah Mbak,barusan datang, ada di tempatnya”,
“Makasih Pak, ayo Li”, Nila bergegas menuju tempat koran, sambil matanya memutari seluruh ruangan perpus, untuk mencari seseorang , itu dia…hatinya senang.
Sambil membawa koran jawa pos di tangan ia mencari tempat duduk,,
”Duduk sini saja Li”, menarik kursi di sebelah Kevin.
Dalam pikiran Lili, ada apa kok tumben Nila mengajak duduk di dekat Kevin, padahal Nila sangat membencinya , pasti ada sesuatu yang akan terjadi..
Nila membuka korannya cepat2, di kolom kriminalitas Nila mengumpulkan konsentrasinya, membaca berita,……….. ada.ini dia.
“Lihat berita ini Li”, dengan suara agak keras,s eolah-olah berharap Kevin mendengar, Kevin berada di kanan nila hanya dipisahkan dua kursi.
“Berita apa sih Nil?”, Lili penasaran, membaca apa yang ingin ditunjukkan sahabatnya itu.
“ Ini lo baca”,
“Seorang mahasiswi di Jakarta diperkosa dan di bunuh di dalam angkot, ih serem ya Nil?”
“Dasar laki-laki dimana saja sama,… bajingan..,mereka seperti binatang saja ya Li”,
Mata Nila menatap Kevin, beserta dendam, seperti kalimat itu ditujukkan untuk Kevin,karena kelakuannya kepada Nila selama ini.
Mendengar kalimat dan intonasi yang baru saja masuk ditelinganya, Kevin pun menengok, dia juga bisa merasa bahwa kalimat itu memang ditujukan untuknya, karena tidak pernah Nila duduk sedekat itu dengannya.
Kevin terus menatap Nila,Nila pun juga begitu…
“Jangan melihatku seperti itu..aku jadi takut..lihat kelakuan golonganmu, benar-benar seperti binatang”.
Kevin merasa dirinya benar-benar diserang, pandangan mata mereka tak pernah putus.
“Apa ini sepenuhnya salah sopir angkot itu ?”
“Apa maksudmu, lalu salah siapa? Apa mahasiswi itu yang meminta?..jangan gila kau ”, Nila tertawa sengit.
“Apa kalian tidak merasa bersalah juga?” Kevin sedikit tersenyum.
Kevin melirik paha Nila lagi, rok yang tertarik keatas lagi, menyadari hal itu Nila segera menariknya agak kebawah, tapi usahanya gagal, ia lalu menutupinya dengan buku.
“Kau munafik sekali , di depan teman-teman mu kau seperti orang baik,beragama, sedangkan dihadapanku seperti ini, dimataku kau orang paling bajingan”.Nila sudah habis kesabarannya.
“Heeii tutup mulutmu, Nafsu itu Manusiawi, apakah golonganmu sudah berperilaku dengan benar?, berpakaian dengan benar?, kalian membukanya terlalu banyak”. Marah kadang2 hanya untuk menunjukan idealisme seseorang,dan kevin melakukan itu sekarang.
“Jadi kau menyalahkan kami?” Nila terheran.
“Apa kau tadi juga tidak menyalahkan kami?....Jangan samakan kami dengan tumbuhan, kami bukan pohon yang tak bisa tergoda, sopir angkot itu hanyalah orang yang tak kuat menahan”. sambil berdiri, seperti berniat pergi, “ Dan yang pikiranmu tentang aku, itu hanya kamu tidak tahu yang aku cari ?”. Kevin pergi.
Nila harus menerima kegagalan lagi, ia ingin membalas sakit hatinya, tapi ternyata hatinya yang harus kembali sakit..dasar laki-laki, pintar sekali membalik-balikan…fuck...yang jelas kau munafik, kenapa aku harus memikirkan itu..
“Sudahlah Nil.Kenapa juga kamu berlaku seperti itu,semakin besar inginmu membalas,rasannya akan semakin menyakitimu..sudahlah..”
“Tidak li,Dia sudah membuat aku jengkel begitu lama..kalau aku tidak bisa membalas dengan ucapan,akan kubalas dengan perbuatan..”
“Heh..apa maksudmu??jangan nekat..”
“Tidak percuma anggota sie kesekretariatan milih aku sebagai koor mereka….”Nila berganti tersenyum sinis..”….aku akan biarkan semua tugas sie ku”.
**************
“Dimana tempatnya, kalau di depan aula, sekarang masih hujan, pasti basah“
“Ya sudah di sekber saja”
Delapan anak duduk melingkaar di ruang rapat sekber sebelah kiri,mereka adalah koor2 sie proker DPM pemilihan presiden BEM polinema, diantaranya adalah kevin dan nila,kevin sebagai ketua pelaksana dan nila sebagai koor sie kesekretariatan.
“Bgaimana laporan sie acara?”, Kevin mengecek sejauh mana tugas-tugas tiap sie..
“Kami sudah menyusunnya Pel,,ini susunan acara selama dua hari orasi,,semua kandidat juga sudah kami beri jadwalnya dan briefing,sie perlengkapan juga sudah kami konfirmasi apa saja yang kami butuhkan”.
“Baik,ini akan aku pelajari nanti”, Kevin menerima beberapa lembar kertas.meletakkan didepannya.
“Sekarang Sie Kesekretariatan?”,
“ Kami sudah buat surat peminjaman tempatnya, tinggal tanda tangannya yang belum”,
“ Tanda tangan siapa?”,
“Semuanya”,
“ Apa!!!!!!…Bagaimana kerja kalian seperti ini??...tiga hari lagi orasi ,tapi surat tempatnya saja belum ada tanda tangan sama sekali..dari kemarin selalu iya..iya.tapi tidak pernah jalan sampai sekarang.. mau minta tanda tangan kapan??......kamu kordinatornya, apa maksudmu dari semua ini“.
Dan benar apa yang dikatakan Nila. walaupun ia selalu ikut rapat pemira .tapi semua tanggung jawab masalah persuratan sengaja ia ulur-ulur,s urat perijinan, surat undangan, dan lainnya agar kevin sebagai kapel akan marah, dan itu terbukti.
“Tidak sama sekali, kami memang sibuk”,
“Aku tidak percaya alasanmu, kamu ingin membalasku kan?, jangan dibawa-bawa ke tanggung jawab seperti ini, kamu tak bisa professional?………Ok, kalau memang ini caramu membalas, aku akan menerimanya , mana suratnya, kamu beristirahat lah,”
Nila agak kaget mendengar kalimat terakhir kevin,sembari ia mnyerahkan surat yang diminta,didalam hatinya sedikit merasa bersalah, ini tidak sesuai yang diharapkan nila,…..kenapa jadi begini?..... Nila segera meninggalkan forum sebelum rakor selesai.
Malam harinya, di teras kamar, lantai dua, Nila memandang jauh yang gelap, kerlip-kerlip lampu kecil di pegungan dan bintang-bintang yang tertempel dilangit, angin berhembus senang, membawa rasa bersalahnya, bukan rasa bersalah karena kemarahan Kevin, tapi rasa bersalah tentang cara ia membalas, cara ia lari dari tanggung jawab. Perkataan Kevin tadi sore sulit hilang dari ingatannya, wajar karena ia adalah orang yang suka menegakkan kebenaran,dan baru saja ia melakukan kesalahan….Bodohnya aku, benar yang Kevin katakan, seharusnya tidak dengan cara seperti ini aku membalasnya.. mulutnya bergumam sendiri,untuk kali pertama nila menyebut nama Kevin. Dingin tak mampu menembus Nila. Piyama tipis serasa selimut paling tebal bagi orang yang bersedih.
Lamunan malam Nila tiba2 di pecahkan dengan suara motor berhenti di depan pagar rumahnya.
….Vixion hitam?, Jangan-jangan ?...
Benar dugaan Nila, sebelum si pemilik motor melepas helmnya, Nila segera lari masuk kamar, Kevin datang kerumah Nila. Setelah mendapat tanda tangan Ketua Umum DPM, waktunya Kevin minta tanda tangan Pak Samsul selaku Dosen Pembina DPM.
Kevin sudah masuk rumah, segeralah ia berjabat tangan dengan ayah nila dan duduk di ruang tamu. Wajahnya tersenyum,
“Selamat malam Pak samsul, minta tanda tangan Pak buat Orasi”,
Persis di belakang rumah tamu,ada tangga ke lantai dua,Nila mengintip tamunya dan menguping dari situ,karena ia tahu Kevin kesini adalah untuk mengcover tanggung jawab nila yang diabaikan,dia pasti akan menjelek2kan aku di depan papaku.. mati aku .Nila gelisah,teramat gelisah.
“ Walah Kevin ternyata, bagaimana persiapan pemiranya, untuk kapan itu?”,
“Alhamdulillah lancar,tiga hari lagi Pak”,
“Kok mepet sekali Vin?”,
“Iya Pak maaf”,
“ Oiya, Nila katanya juga ikut di panitia ini?”,
“ Iya Pak”,
“ Bagaimana anak itu ?”,
“Dia bagus Pak Samsul kerjanya, kerjasamanya juga baik selama ini, Nila kan sudah pengalaman untuk hal-hal seperti ini”,
“Kalau di kampus Vin ? , kamu tahu dia seperti apa, walaupun Bapak juga ngajar, Bapak tak bisa detail melihatnya ? ”,
“Nila anaknya baik Pak Samsul, sopan kepada siapa saja, banyak yang senang dengan Nila “,
Nila mendengar semuanya, setelah Pak samsul tanda tangan, Kvin segera meluncur ke kediamanya pudir tiga,melewati sendirian jalanan yang di dingin, bersama keletihannya, tapi apakah dengan marah-marah atau terus-terusan menyalahkan akan menyelesaikan?
**************
Semua yang hadir melihat seksama ke panggung depan, dua mahasiswa yang memakai almamater berdiri tegak,
“ Kami akan mengajak teman-teman yang lain untuk menyadari potensi dirinya, kami akan membuka diri terhadap saran semua mahasiswa polinema, kami akan melakukannya”, Suaranya lantang.
Dimalam ini, waktunya orasi para kandidat presiden BEM, bukan malam biasa untuk para pemikir, dan siapa yang akan membawa kemajuan POLINEMA, sedikit banyak akan ditentukan berkat malam ini. Kevin tak pernah hilang konsentrasi, memastikan semua berjalan lancar, agar tidak percuma ia kesana-kesini sejak sebulan yang lalu, termasuk menghandle tugas yang ditinggalkan Nila.
Begitupun dengan panitia yang lain, semua saling melengkapi . Didalam rasa bersalah yang merundung, Nila juga datang ikut membantu, ia ingin menunjukkan penyesalan dan memperbaiki kesalahan, walaupun sepeda motornya hari ini dipinjam keponakannya ke bali, tak mengahalanginya, Lili sahabatnya, rela menjemput. Nila hanya ingin membantu sekuat tenaga.
Jam bergulir lagi..Sedangkan di panggung para kandidiat Presiden BEM terus berkobar-kobar meneriakan janji,membela-bela kebenaran. Semangat para pemuda yang ingin mencari pengakuan. Riuhnya calon pemilih terdengar megah,tentu bukan seperti riuhnya penonton ketoprak. Walaupun ini sudah jam sembilan, semuanya masih menganggap itu pagi.Kecuali beberpa mahasiswi yang memang harus pulang.
“Ayo Nil,aku pulang duluan,aku mau ke rumah saudara di sigura-sigura, ada kawinan ”.
“Iya Li.aku juga sebentar lagi pulang ,nunggu ini bubar,kamu sudah ijin kevin?”
Lili tersenyum mendengar bibir Nila mengucapkan Kevin.
“Kenapa kamu tersenyum?”, Nila mengerutkan dahi, padahal ia sebenarnya tahu kenapa Lili tersenyum.
“Tidak apa2,.aku sudah ijin, kamu pulang sama siapa nanti? Sudah malam lo, maaf ya,aku tidak bisa mengantar ”.
“ Tidak apa-apa Lili,terima kasih sudah jemput tadi ,Aku nanti telepon Papa, suruh jemput. Kamu hati-hati ya”,
“ Ok Nila. Sampai ketemu besok” , dan Lili pun bergeas pergi, atau sudah terlanjur pergi.
Tepat jam sepuluh acara orasi benar-benar bubar, karena memang aturan kampus yang mengharuskan kosong di jam sepuluh. Nila sudah di depan gerbang kampus, menempelkan blackberry nya di telinga,
“Pa,jemput Nila di kampus?”
“Aduh maaf Nil,Papa lupa kasih tahu tadi pagi, Papa keluar kota pulangnya besok,naik angkot saja ya?”,
“Ya sudah Pa tidak apa-apa, Papa hati-hati ”.
Rumah Nila di Perumahan Araya, untuk pulang ia harus naik angkot ADL yang biasanya lewat depan kampus, Kota malang sudah menjadi layaknya kota besar, jam sepuluh pun juga masih belum terlalu sepi,
…lama sekali angkotnya…
Rasa letih setelah acara tadi, membuatnya segera ingin sampai rumah,begitu juga Kevin dan yang lain.Setelah merampungkan bubarnya acara tadi, Kevin pulang paling terakhir, jam 22.15 WIB. Sekretnya sudah di kunci segera ia menaiki motornya, Kevin menyalakan sein kiri untuk keluar dari kampus Polinema sesampainya di depan gerbang, ia menginjak remnya,melihat Nila berdiri dipinggir jalan.kevin menghampiri Nila.
…..Kenapa Dia ?apa dia mau mengantar aku pulang?..
Kevin tersenyum,
“Hati-hati.Sopir angkot disini pun bisa sama dengan sopir angkot di Jakarta, ini sudah malam”.
Mendengar perkataan Kevin, Nila tak membalas .Ia hanya menatap. Apa dia sudah tidak mau bertengkar dengan Kevin lagi?, Setelah berkata seperti itu,Kevin pun segera meninggalkan Nila sendirian.
Apapun tujuan Kevin mengatakan itu, membuat Nila menyadari sesuatu dan berpikir berat. sebagai wanita , ia tetap mempunyai rasa takut, takut terjadi sesuatu, tanpa sadar ia meneteskan air mata, temannya sudah pulang semua. Nila gelisah, dan baru saja satu angkot ADL lewat, Nila lebih memilih menangis,duduk lemas di trotoar, karena memang pagi itu, Nila mendengar semua ulasan beritanya.
ATTENTION..…
Biasanya jam segini Pak aris memasukkan barang –barang dagangan toko kedalam rumah, botol-botol bensin dikunci di tempatnya. Tandanya adalah mudah, jika Kevin pulang , itu berarti Pak aris siap-siap menutup toko. Kevin jarang sekali pulang di bawah jam sepuluh,hingga keluarga pak aris dan penghuni kos disitu menjuluki Kevin mahasiswa malam.
Kevin masuk garasi, dan turun dari motornya,sampailah ia di depan kamarnya, kantuk tak tertahan,
“ Aduuuhhh”, Lalu Kevin cepat-cepat kembali ke garasi.
Pak Aris yang melihat Kevin tergesa-gesa juga ikut khawatir,
“ Ada apa Mas, mau kemana ?”, Pak aris melihat jam, sudah jam setengah sebelas.
“ Kunci kamar saya hilang Pak,saya mau mencarinya”, segera ia menjalankan motornya, tanpa memberi kesempatan kepada Pak Aris bertanya lagi.
Perjalanan yang paling di benci adalah perjalanan mencari sesuatu yang hilang, meski melewati sejuta keindahan, tak akan bisa merubah suasana hati yang bercampur-campur.Kevin merasakan itu,sepanjang perjalanan pencarian,mulutnya, hatinya, tak pernah berhenti mengatakan kata, “Dimana?”,
….. Apa ini karena ulahku kepada Nila?....
Tak terasa sudah sampai di pintu masuk kampus,tak ketemu juga, Kevin semakin jengkel, karena kantuknya menjadi-jadi.
Dalam kegelapan, mata kevin tak begitu jelas nmengenal.hanya sorot lampu kendaraan yang satu dua lewat,
…Siapa itu?...Kalau Nila tidak mungkin, Dia sudah pulang dari tadi….Kevin perlahan menghampiri dengan motornya
….Dia seperti menangis…
Kevin sudah di hadapannya, dan betapa kagetnya ia melihat, Nila menunduk menangis di trotoar. Memang Kevin sering bertengkar dengan Nila, tapi Kevin juga laki-laki biasa, ada satu keadaan yang merubah seoarang laki-laki, yaitu saat melihat seorang wanita menangis.
Kevin turun dari motornya, mendekat,
“ Kamu kenapa masih disini dan pula menangis?”,
“ Apa pedulimu!!, pergi!! ”, Nila menggertak.
Jika saat- saat sebelumnya, tanpa di suruh pun Kevin pergi, tapi malam ini Kevin tahu, bahwa ini tidak seperti biasanya, makanya ia tetap duduk disamping Nila.
“ Aku bukan tipe orang yang senang dengan keras kepala”,
“ Diam!!!..Pergi saja!” Sambil terus-terusan mengusap air matanya, Nila ingin terlihat semuanya baik-baik saja.
“ oo...haha, .. Kevin tertawa,…Aku tahu ,kamu takut pulang , menangis karena ucapan ku tadi ya?”,
“ Tidak..,kamu salah”,
“ Baiklah kalau aku salah, aku pergi”, tanpa pikir panjang, Kevin menaiki Vixionnya lalu pergi meninggalkan Nila.
“eeh… “ Apa yang ingin diucapkan Nila,,semuanya terlambat,Kevin telah Pergi.
Nila kembali gelisah,ia menunduk. Kedua tangannya melingkari lutut, di kepalanya, hanya satu pertanyaan, apa yang harus ia lakukan, lama ia merenungi, membuat matanya berkaca-kaca lagi. Hampir jam sebelas malam, tak ada angkot lewat lagi, jika ada, itu yang terakhir, dan banyak orang yang menganggap, kata terakhir adalah kata yang tidak baik.
SuaraVixion itu kembali,Nila menghadapkan wajahnya,
“ Ayo….Maaf tadi masih ambil kunci kamar yang ketinggalan di sekret”, Kevin tak putus asa,
“Ayo kemana?”, Nila sudah agak lembut, sejatinya kodrat wanita itumemang lembut,meskipun itu baru terlihat dengan keadaan yang sulit.
“ Aku antar kamu pulang”, Sambil Kevin jongkok di hadapan Nila, matanya bertatapan.
“Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri”,
Kevin mulai bingung dengan keyakinan Nila, Dia baru menemui seorang wanita yang seperti ini, di dalam situasi yang seperti ini, Kevin lalu tersenyum,
“Mahasiswi itu juga pas sendiri, kamu tahu itukan?
“Kau jahat sekali”, Nila benar-benar kalah, ia menangis di depan Kevin, lalu menunduk lagi.
“Lebih jahat mana dengan orang yang menolak bantuan orang lain, padahal dia tahu bahwa ia sangat membutuhkannya, sudahlah… atau aku menjadi lebih jahat lagi dengan meninggalkanmu disini ? ”,
Nila tetap menunduk,
“Maaf aku memaksa “, Kevin menarik tangan Nila, membawa ke motornya.
Nila terbawa, ia naik kemotor, Kevin segera menyalakan motor dan berangkat, karena kantuknya memang parah, tadi pagi Kevin bangun jam setengah empat, sampai jam segini ia belum tidur, apalagi ia masih harus mengantar Nila pulang ke Araya.
Sepanjang perjalanan, tak ada pembicaraan, tak ada hangat-hangatnya, hanya dingin untuk mereka berdua . Nila diam di belakang, sambil mengusap-ngusap air matanya yang masih tersisa, Kevin pun begitu, yang dipikirkannya hanya jalan, dan Nila yang harus segera sampai rumah.
Dua puluh menit sudah hilang, sampailah dirumahnya Nila, Kevin paham benar alamat rumah Blok G nomor 24 itu. Motornya tepat berhenti di depan gerbang, tapi Kevin tidak mematikan mesinnya, Dia hanya menoleh kebelakang. Ketika motor Kevin sudah yakin berhenti, Nila bergegas turun.
Setelah Nila benar-benar turun dari motor, Kevin segera berputar balik, tanpa kata, tanpa senyum, tanpa lambaian, hanya sebentar menatap Nila lewat celah helm balapnya, Kevin berangkat pergi, Nila hanya mengikutkan wajahnya kepada laju Kevin. Di keremangan jalan perumahan, Kevin mengecil,mengecil, dan akhirnya ia hilang di belokan.
…..Salam saja tidak, benar-benar tidak bisa memperlakukan cewek sama sekali……
Lalu Nila masuk kedalam rumah, mamanya sempat khawatir, tapi karena tahu bahwa anak kesayangannya baru saja melakukan kegiatan bermanfaat di kampus, Mamanya tidak memarahi. Tanpa makan, tanpa mandi, Nila telah bebaring di kamar tidurnya, tepat jam setengah dua belas.
Betapa sulitnya melupakan yang baru saja ia alami , membuatnya Nila sulit memejamkan mata. Tentang ketakutannya tadi , lalu pulang diantar seseorang yang sering melukai hantinya,.Ia merasa bingung, harus sedih atau harus senang?, ini sebuah hal yang mencoreng namanya, atau kabar baik untuk hubungan nya dengan musuh. Nila adalah orang yang tahu terima kasih, tapi setelah turun dari motor Kevin, Ia bimbang antara mengatakan atau tidak.
….Tuhan..Aku ingin tidur…
Jam setengah dua pagi, Nila masih belum bisa tidur, pikirannya kemana-mana, ia sampai mengaktifkan mode silent di Blackberry-nya , agar besok tidak ada yang menggangu tidurnya. Ia pasti bangun siang.
**************
Lili dan Dina kebingungan di sekber,bahkan Lili belum sempat mandi. Sudah jam 10, tapi yang kumpul masih 3 anak, yang lain masih perjalanan, ada juga yang menyusul. Lili dan Dina silih berganti menghubungi Nila,tapi memang tidak nyambung.
Hilal dan dika baru datang, tergesa-tergesa juga. Di sekber sedang sepi, karena memang hari libur, hanya ada beberapa anak USMA dan HME, mereka kenal semua dengan Kevin makanya mereka akan ikut.
“ Kenapa HPnya Nila mati?”
Tak ada yang bisa menjawab.
Pagi tadi salah satu anak DPM dapat kabar dari teman kosnya Kevin, bahwa Kevin kecelakaan tadi malam, di jalan L.A Sucipto belimbing, tapi tak ada yang tahu Kevin dari mana, karena Kevin pingsan ,lalu di bawa warga ke RSUD Saiful Anwar. Anak-anak DPM ditambah beberapa anak sekber lainnya hari ini menjenguk Kevin. Setelah sudah banyak yang kumpul, mereka pun berangkat.
“ Kalian kerumah sakit saja dulu, aku mau ke rumah Nila dulu ”,
“Ya Li, Hati-hati”
Lili memisahkan diri, Dia belok kiri menuju araya.
Sesampainya di rumah Nila, Lili hanya bertemu Mamanya,
“ Kira-kira kemana ya tante?
“ Maaf Lili, Tante tidak tahu, Nila hanya bilang mau bersepeda, paling hanya di taman perumahan Li,berangkatnya saja sudah siang”,
“ Oh, Kalau begitu tak carinya ke sana Tante”,
Lili lalu pergi mencari Nila ke taman Perumahan, benar,Nila ada disana, berteduh melihat bunga-bunga.
“ Nil,,”
Nila menoleh ke belakang, “ Ada apa Lil?”
“Kamu sudah dapat kabar, kalau Kevin tadi malam kecelakaan?”
“Astaga…” Nila kaget, “ Dimana Li?, kapan?”,
“ Di belimbing, tadi malam, anak- anak sedang kerumah sakit sekarang, ayo kita nyusul”
Mendengar tempat dan waktu kejadiannya, membuat Nila gelisah lagi.
“Ayo Li”, tanpa banyak pertanyaan lagi.
RSUD. Saiful Anwar.
Nila dan Lili tidak berlari-lari di lorong rumah sakit, jalannya hanya cepat. Kamar bougenville no 42, tempat Kevin bersama keadaanya. Nila lebih cepat beberapa langkah, raut muka NIla mnengambarkan hatinya,
…. Kevin kecalakaan, aku jahat sekali…..
Kamar Kevin sudah terlihat, ada dua orang di depan kamarnya..
“ Pak, kami temannya Kevin, Kevin bagaimana keadaanya? Kami ingin menjenguk Dia?
“Oiya mbak, silahkan,tangan kanannya yang lumayan parah”,
Bapak itu mengantar Nila dan Lili masuk,dan…
Terlihat Kevin terbaring, berselimut putih, wajah kusam banyak luka, tangah kanan diletakkan di atas perut, dengan perban yang baru, tapi matanya menutup. Perlahan-lahan ketiga orang itu mendekat. Di sebelah Kevin ada seorang wanita paro baya, berkerudung putih, itu Ibunya, ,matanya terlihat kurang tidur. Nila dan Lili memeperkenalkan diri, sambil berjabat tangan.
“ Vin, Kevin..” ,membisik.
“ Jangan Tante, biarkan Kevin tidur”,
“Tidak Apa-apa mbak, Ini juga waktunya makan siang”,
“ Mbak –mbak ini temen sekelas nya Kevin atau..? Bapak itu menyahut pertanyaaan
“ Bukan Bapak, kami teman seorganisai”,
“ Berarti sama dengan teman-teman yang tadi, tapi mereka sudah pulang“,
“Iya Pak,kami ketinggalan”,
Kevin terbangun, “ Vin, ada temannmu memenjenguk, Bangun Nak”,
Kevin melihat tamunya, tak berkata, meringis-ringis, seluruh tubuhn ya mengirim kesakitan padanya.Nila terenyuh dengan melihat Kevin, Nila seorang yang tegar, tapi tetap terlihat kalau dia merasakan keskitan Kevin.
“ Kamu makan sekarang apa nanti Vin?”
“ Nanti saja Bu”,
“ Bagaimana keadaan kamu Vin?”
“ Cuma tanganku saja Li, terima kasih ya sudah kesini”
“Iya Vin, sama-sama”
Nila hanya diam, matanya berkaca-kaca, karena ia apa tahu satu hal, apa yang tidak di ketahui semua teman yang sudah menjenguk Kevin, darimana Kevin tadi malam. Nila selalu menatap mata Kevin,menatap luka-luka Kevin, menatap kesakitanya.
“ Om, tante, kalau mau istirahat,biar Kevin kami yang jaga”.
“Apa tidak apa-apa Mbak?
“Tidak apa-apa Tante,benar tidak apa”,
“Titip Kevin kalau begitu.Terima kasih ya”,
Ayah dan Ibunya Kevin keluar kamar setelah pamitan dengan Kevin,mereka memang terlihat lelah, karena setelah mendapat kabar Kevin kecelakaan, langsung terbang dari bandung,dan belum sempat istirahat. Nila dan Lili duduk di samping Kevin.
“ Hai..” Nila menyapa, selama ini tidak pernah selembut ini dengan Kevin.
“… Maafkan aku”,
Kevin terseyum bersamaan menahan sakitnya.“ Untuk?”
“ Ini..”,
“ Kenapa Kamu meminta maaf?”,
“Jika tidak karena aku,kamu pasti masih tidur dirumah”, Lebih tepatnya jika tidak mengantar, pembicaraan kali ini hanya di mengerti Nila dan Kevin, karena hanya mereka berdua yang tahu kejadian sebelum Kevin kecelakaan. Lili disamping Nila cuma bingung sendiri , kenapa Nila mulai berubah, atau bisa dibilang berubah sekali kepada Kevin.
“ Jika tidak karena aku, kamu pasti tidak menangis ketakutan, ini salahku sendiri..justru aku yang minta maaf”, Kevin membalas.
“ Jika tidak karenamu, aku bisa saja menjadi korban di angkot“,
“Jika tidak karenamu, aku bisa saja terbunuh rampok di kost”,
Lili semakin bingung dengan mendengar pembicaraan ini, tapi dia diam, masih belum waktu yang tepat untuk memotongnya, karena Lili merasa percakapan ini penting bagi keduanya.
“Kamu jangan mengada-ada”, Ucapan Nila semakin lembut.
“ Manusia memang tidak tahu yang akan terjadi, dan tidak perlu terlalu menyalahkan diri sendiri ketika sesuatu terjadi”,
Nila tidak menjawab lagi, Ia kembali memandangi luka, tangan dan wajah Kevin, Nila menarik nafas panjang.
“ Sebenarnya kalian berdua kenapa?, Vin bagaimana kejadiannya? Sudah saatnya lili bertanya,
“ Tidak ada apa-apa Li, aku ditabrak mobil dari belakang di depannya masjid sabillilah”,
“ Kamu dari mana Vin malam-malam begitu, kostmu kan di Griyashanta?”,
“ Dari mengantar anak kecil yang tidak berani pulang?”
“ Anak kecil?”, Lili semakin bingung.
“ Sudah, sudah Lili, Kevin harus makan siang, kamu makan siang ya Vin”, Seperti tidak ingin sesuatu ketahuan, Nila berusaha memotong pembicaraan mereka, lalu berdiri mengambil makanan yang disiapkan rumah sakit.
“Hayo..sebenarnya ada apa ini?” Lili tersenyum, merasa menemukan rahasia diantara Kevin dan Nila.
“ Ssst..mau tahu saja kamu?”
“ Aku dari mengantar Nila pulang Li”
“Haah… Apa?? “, Lili terkejut, hanya tersenyum-senyum menoleh ke Nila, menoleh ke Kevin.
“ Sudahlah Lili, jangan dibahas, rasa bersalahku muncul lagi nih”,membawa makanan Kevin ke sebelah tempat tidurnya.
“ Kamu makan ya sekarang?” … Matanya menatap mata Kevin, Kevin pun begitu. Mulailah Nila mengayunkan sendok pertama ke mulut Kevin. …“ Siapa yang anak kecil sekarang,makan saja harus di suapin?” tersenyum meledek..
“ Lili tolong panggilkan Ibuku, anak ini cerewet sekali”, Kevin membalas,
Mereka bertiga tertawa bersama sama..
Begitu seterusnya, hari-hari selama Kevin dirumah sakit, Nila selalu menjadi teman yang baik untuk Kevin dan keluarga Kevin, entah rasa bersalahnya yang mendorong atau sedang menikmati hangatnya awal percakapan dengan mantan musuh, memang itu indah sekali. Kalau tidak membawakan Kevin buah-buahan, menyuapinya, berarti sekedar teman bicara. Sakit yang sempurna adalah sakit di kesendirian. Nila hanya tidak mau Kevin merasakan. Itu saja..
Sampai di suatu hari.
Nila datang seperti biasanya, membawa kantung plastik Istana Buah,
…. Jeruk, bantu aku berdoa agar Kevin cepat sembuh…
Bagaimanapun Nila adalah hanya wanita, di tengah kamatangan jiwanya, jika ia merasakan rasa yang menusuk hati, jeruk pun bisa menjadi teman bercerita.
Nila membuka pintu kamar, Kevin sendiri disana, Ibunya sedang mengantri obat. Kevin tak terkejut melihat dengan dibawa Nila, yang Kevin lihat adalah malah yang ada di kepala Nila dan perbedaan penampilanya. Nila memakai rok panjang, sedangkan dikepalanya tersangkut selendang putih. Nila mendekat ke Kevin.
“Jangan melihatku seperti itu”, Nila sedikit kaku.
“ Itu cuma perasaanmu saja, aku biasa“,
“ Aku merenung setiap malam, aku memikirkan yang sudah ku lalui, aku sudah tahu sekarang”, sambil ia duduk di sebelah Kevin.
“ Tahu apa?, katakan apa yang sebenarnya ingin kamu katakan”, Kevin bingung.
Nila menata selendang nya,sedikit tertutupi rambutnya.
“ Aku malu saat kamu melihat pahaku, aku malu saat kamu melihat ku seperti itu, makanya aku menggati baju ku seperti ini, maaf aku baru sadar. Itu kan maksudmu selama ini?”,
Kevin membenahi posisi duduknya,keadaannya sudah sembuh, tapai tangan kanannya masih belum bisa terlalu gerak. Ini hari terakhir ia dirumah sakit.
“ Kamu salah, aku hanya orang munafik”,
“ Sudahlah, kapan sih kamu tidak berbeda pendapat dengan ku?, kamu selalu menentangku ?”, berwajah sedih, memelas tepatnya.
“ Karena aku suka melihatmu bicara, aku suka melihatmu saat kamu berpikir, karena kamu cantik disaat-saat itu”, Kevin sedikit tersenyum.
“ Apa?, secepat itu kamu suka aku”,seyum itu pun dibalas oleh Nila,
“ Bukan suka kamu, tapi saat kamu bicara, jangan berharap seperti itu”,
Mereka berdua tertawa, Nila juga mencubit-cubit bercanda ke Kevin, suasana keduanya semakin manis. Mungkin rasa bersalah Nila sudah digantikan dengan rasa yang baru.
Tiba-tiba mereka diam dan mata mereka bertatapan,
“ Apa yang kausadari saat ini, bukan karena aku dulu, bukan karena siapapun, kebanyakan wanita akan melewati masa dimana ia sadar penampilannya, ibuku dulu juga begitu”,
“ Ibumu juga melewati kemantapan hati seperti ini ya Vin?,
“ Ibuku bilang, itu bukan masalah kemantapan hati, tapi kewajiban. Ibu ku juga sering berpesan, kalau kita bernampilan baik, orang yang mencintai kita juga orang-orang yang baik, Apa yang sebenarnya kamu cari dengan celana super pendek itu?”
“ Tidak mencari apa-apa, Aku tidak tahu”,
“ Untuk mendapatkan perhatian setiap laki-laki kan?, Apa gunanya kamu menarik perhatian banyak laki-laki, kalau nantinya kau hanya memiliki dan dimiliki satu laki-laki, kamu telah melukai banyak orang”,
“ Terimakasih, Aku merasa lebih baik saat denganmu”,
“ Aku merasa sangat bahagia saat denganmu”,
Keesokan harinya, Kevin pulang dari rumah sakit. Kembali ke teman-temanya, kembali ke kostnya, tapi tidak kembali ke jaman perperangannya dengan Nila. Hari – hari pemulihan untuk Kevin, bersama seseorang yang tiba-tiba muncul.
AND FINALLY..…
Seseorang yang di lemahkan, seseorang yang dikuatkan. Tak pernah sepi atau justru membuat dunia menjadi kosong. Rasa yang tumbuh kepada manusia,dan tak pernah pergi darinya. Tak akan bisa digambarkan, tak mungkin bisa dijelaskan, seolah itu adalah kebohongan besar. Manusia terlalu sederhana memberi nama rasa itu dengan kata..Cinta. Cinta tak mampu dipendam. Bila tak terdengar, cinta pasti akan terlihat.
Cinta dirasakan oleh Nila dan Kevin, entah apa yang menjadi alasan keduanya saling mencintai. Cinta juga yang membawa mereka duduk berdua di gazebo depan gedung jurusan akuntansi, di minggu sore yang cerah, tak ada orang lain selain mereka.
“ Aku sudah kalah, kau yang membuatku seperti ini”,Kevin menggengam tangan Nila.
“ Yang membuatmu seperti itu?”
Mereka bertatapan mata, dan isi hati yang bicara,
“ Kau lebih indah dari air jernih yang mengalir”, Nila terlanjur tersenyum, tapi hanya tersenyum.
“ Sudah lah, jangan membuat dirimu terlihat seperti buaya, Aku hanya tidak suka jika alasan awal adalah kecantikan”,
“ Apa dengan aku mencintai wanita yang jelek, kau baru akan menganggapku laki-laki mulia?, lalu seperti apa wanita yang jelek menurutmu?”
Nila Nampak kebingungan menjawab,
“ Tak ada wanita yang jelek di dunia ini, semua wanita sangat indah di mata orang yang mencintainya,kaupun begitu Nil”, Suara lembut sampil tangan Kevin merapikan kerudung Nila.
….” Nila…..Aku mencintaimu karena waktu dan hati…”
Kevin bukan orang yang menghebohkan. Dia tak pernah di kabarkan dekat dengan siapapun, Dia hanya laki-laki biasa. Tapi suatu saat ia berhak mendapatkan seseorang yang ia cintai.
..”Aku pun begitu Vin, tapi aku takut dengan ungkapan yang seperti itu, aku bukan tipe perempuan yang gampang luluh”,
Tangan Kevin mengarahkan wajah Nila ke wajahnya, lebih dekat..
“ Nila, tatap dalamnya mataku…..Selain mecintaimu…Aku bertanggungjawab atas dirimu”,
Nila meneteskan air mata, hatinya tersentuh karena ucapan Kevin, karena Nila mengenal betul Kevin. Kevin selalu tahu dengan apa yang ia ucapkan. Kevin mendekati Nila dengan cara yang tidak biasa dilakukan laki-laki yang berpengalaman, menelepon setiap hari, menemaninya kemana-mana, perhatian yang berlebihan, bukan dengan cara seperti itu. Kevin selalu membuatnya menyadari suatu kebaikan di setiap hari, Kevin yang sederhana,seseorang yang membuatnya bahagia.
Kevin mengusap air mata di pipi Nila,
“ Semoga kita lebih baik dengan pelan-pelan, suatu saat kau akan menemukan orang lain yang lebih menyenangkan daripada aku, maka dengarkanlah kesetiaamu, aku tidak mau kehilanganmu”,
Nila tersenyum, ia memegang tangan Kevin diwajahnya,
“Semoga Vin, dan jangan pernah mencitaiku berlebihan Vin, karena syeitan selalu disamping kita”.
Mereka sudah berjanji, mereka akan serius memegang janji, mereka tahu akan melewati godaan cinta yang lain.
Kevin mencium dahi Nila di sore hari yang menguning………...
SELESAI
Nila turun dari motor Kevin, Kevin langsung pulang karena jam empat ada acara keluarga. Nila lansung masuk rumah, ibunya sedang menyiapkan makan untuknya diruang makan. Nila menghampiri,
“ Mama…..”
“ Kevin tidak masuk dulu Nil?”,
“Dia ada urusan Ma..?
“ Bagaimana hubunganmu dengan Kevin, baik-baik saja kan?”,
“ Baik-baik saja Ma, memang ada apa Ma?”
”Ingat Nila, Janji sebelum ijab itu setengah palsu,..”
“Iya Ma, tapi insyaalloh dia beda”, Meletakkan tas dan menjatuhkan tubuhnya di sofa.
“Kepandaian laki-laki adalah membuat sesuatu menjadi seolah-olah, Mama hanya sudah pernah melewati yang sedang kamu lewati, jangan pertaruhkan semuanya”.
“Iya Ma..,Nila sayang Mama..” Nila memeluk mamanya.
“Cerita ini hanya sebuah karangan fiktif belaka. Jika ada kesamaan Nama dan kejadian, kami minta maaf. Tapi untuk nama tempat di POLINEMA dan Kota MALANG itu benar-benar ada dan sesuai aslinya”.