Angin yang menghembus kencang perlahan hilang, kereta berhenti
disebuah stasiun, banyak penumpang naik, dan banyak pula pedagang asongan. Sekitaran
lima menit kemudian kereta kembali jalan, kuteguk lagi minuman itu, segar
sekali.
“Kopi mas, dua ribu?”, ibu parubaya meletakkan
dagangan dihadapanku, ku menolak halus dengan menggerakkan tangan dan tersenyum.
Ibu itu berlalu, tak berapa lama lewat lagi seorang kakek tua, “Mas minumnya
mas, dingin mas tiga ribu, pocari delapan ribu”,… “ Enggak pak
terimakasih”, ku menolak lagi sebuah penawaran, karena ku pikir minuman
yang ku bawa tadi masih ada. Lalu bapak itu juga segera meneruskan pekerjaannya.
setelahnya, tak terhitung para pedagang silih berganti menghampiriku, aku
selalu saja menolak karena memang stock bekalku cukup untuk sampai di malang.
Melihat lalu lalang pedagang, kulihat wajah mereka, mencoba
menerka apa yang mereka pikirkan? bapak yang sekuat itu, ibu segigih itu, lalu
kupandang botol dan roti yang kunikmati tadi,
“ Kenapa aku jahat
dan bodoh sekali, kenapa aku memberikan uang kepada orang-orang yang telah
mampu , pemilik swalayan……... Kenapa aku tidak membeli minuman dari mereka, memberi
rezeki yang benar-benar mereka harapkan untuk memenuhi kebutuhannya. Apakah aku
tidak rela jika seribu atau tiga ribu, laba yang diambilnya untuk menyekolahkan
anak-anaknya? Bangggsaaaaaaat, kenapa aku tega melakukan ini?”
“ Apakah aku rugi dan akan miskin jika aku membeli
sesuatu dari para pedagang kereta api?,
Kupandangi dalam, udara sore di persawahan, matahari semakin
memerah, beberapa layang –layang bertebangan, suara lokomotif yang terdengar. Aku
menyesal, tapi aku bahagia telah menyesal.
“Maaf kan aku dan orang lain yang membelanjakan uangnya
untuk orang-orang asing pemilik swalayan, bukan untuk saudaranya sendiri, maafkan
kami..”.
