Senin, 01 Oktober 2012

Aku Bangsat. Maaf..


         Sepanjang sawah yang kuning, matahari sore memperindah jalanan. itu adalah service tambahan yang bisa dinikmati penumpang kereta api ekonomi tujuan Jakarta-Malang. Seperti aku hari itu, berbekal minuman dan roti yang kubeli dari swalayan,  duduk disambungan gerbong melihat jauh ke gunung.
          Angin yang menghembus kencang perlahan hilang, kereta berhenti disebuah stasiun, banyak penumpang naik, dan banyak pula pedagang asongan. Sekitaran lima menit kemudian kereta kembali jalan, kuteguk lagi minuman itu, segar sekali.

“Kopi mas, dua ribu?”, ibu parubaya meletakkan dagangan dihadapanku, ku menolak halus dengan menggerakkan tangan dan tersenyum. Ibu itu berlalu, tak berapa lama lewat lagi seorang kakek tua, “Mas minumnya mas, dingin mas tiga ribu, pocari delapan ribu”,…Enggak pak terimakasih”, ku menolak lagi sebuah penawaran, karena ku pikir minuman yang ku bawa tadi masih ada. Lalu bapak itu juga segera meneruskan pekerjaannya. setelahnya, tak terhitung para pedagang silih berganti menghampiriku, aku selalu saja menolak karena memang stock bekalku cukup untuk sampai di malang.

Melihat lalu lalang pedagang, kulihat wajah mereka, mencoba menerka apa yang mereka pikirkan? bapak yang sekuat itu, ibu segigih itu, lalu kupandang botol dan roti yang kunikmati tadi,

 “ Kenapa aku jahat dan bodoh sekali, kenapa aku memberikan uang kepada orang-orang yang telah mampu , pemilik swalayan……... Kenapa aku tidak membeli minuman dari mereka, memberi rezeki yang benar-benar mereka harapkan untuk memenuhi kebutuhannya. Apakah aku tidak rela jika seribu atau tiga ribu, laba yang diambilnya untuk menyekolahkan anak-anaknya? Bangggsaaaaaaat, kenapa aku tega melakukan ini?”

“ Apakah aku rugi dan akan miskin jika aku membeli sesuatu dari para pedagang kereta api?,

Kupandangi dalam, udara sore di persawahan, matahari semakin memerah, beberapa layang –layang bertebangan, suara lokomotif yang terdengar. Aku menyesal, tapi aku bahagia telah menyesal.

“Maaf kan aku dan orang lain yang membelanjakan uangnya untuk orang-orang asing pemilik swalayan, bukan untuk saudaranya sendiri, maafkan kami..”.